Tentu kita sering mendengar bahwa era digital membawa perubahan signifikan pada semua aspek kehidupan, termasuk peluang pekerjaan. Pekerjaan di dunia hiburan merupakan salah satu pekerjaan yang sedang naik daun. Dan, menjadi perempuan di tengah masyarakat patriarki bisa dikatakan sebagai sebuah privilege ketika berbicara tentang lowongan pekerjaan di dunia hiburan.
Ketika masyarakat modern semakin ketergantungan terhadap gawai mereka, media sosial menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari mereka. Permintaan akan hiburan melalui media digital semakin meningkat pula. Hiburan-hiburan yang sebelumnya dalam bentuk analog mulai banyak hijrah ke dunia digital.
Banyaknya permintaan akan hiburan di dunia digital ini merangsang bermunculannya kreator konten baru. Mereka datang dari beragam lapisan masyarakat, tidak terbatas hanya dari para pelaku dunia hiburan konservatif seperti insan televisi dan radio saja. Hal itu membuat variasi kualitas, tema, dan bentuk kontennya pun semakin beragam pula.
Perkembangan ini kemudian dilihat sebagai peluang pekerjaan tambahan, bahkan profesi tetap oleh sebagian besar masyarakat. Hal itu ditunjang pula dengan cerita-cerita kesuksesan baik dari para pelaku bisnis hiburan maupun perorangan yang telah lebih dahulu beralih ke dunia digital. Profesi kreator konten mulai dilihat sebagai kesempatan yang seksi dan menjanjikan untuk mendapatkan penghasilan.
Orang berbondong-bondong membeli peralatan siaran, belajar mengoperasikannya, belajar editing, sampai karya mereka terpublikasi. Ada pula yang menggunakan gawai sederhana untuk sekedar ikut tren membuat video (jika kita tidak menyebutnya sebagai sebuah konten dengan standar minimal). Namun, satu hal yang patut menjadi catatan kita adalah kemunculan fenomena ini tidak dapat dihindari lagi. Ia menghadirkan paradigma dan kebiasaan baru di masyarakat modern.
Kemunculan fenomena ini membawa pengaruh signifikan terhadap kaum perempuan. Di tengah mayoritas masyarakat patriarki, perempuan masih dianggap sebagai tontonan yang menarik. Perempuan masih menjadi pilihan utama sebagai objek untuk dunia hiburan. Konten-konten yang menghadirkan perempuan berparas cantik dan / atau memiliki tubuh yang bagus sangat laku di pasaran.
Kesempatan seperti ini justru dimanfaatkan oleh sebagian besar kaum perempuan sebagai wadah untuk aktualisasi diri dan mendulang uang. Beragam konten dari mereka pun bermunculan. Ada yang sekedar menunjukkan kecantikan wajah, memamerkan keindahan tubuh, mempertontonkan hubungan percintaan mereka, sampai sekedar memperlihatkan aktivitas sehari-hari mereka. Ada pula yang membuat konten berkualitas seperti video edukasi psikologi, seksual, masak-memasak, parenting, dan lainnya yang dilakukan oleh perempuan.
Hal itu kemudian ditunjang pula dengan bermunculannya media sosial yang memang segmentasinya hiburan. Ada Instagram, Youtube, TikTok, Bigo Live, dan lainnya. Format video pendek berdurasi 1–10 menit menjadi favorit netizen. Dari situ kita bisa melihat bahwa video berdurasi 1–3 menit didominasi oleh kaum perempuan yang kontennya kebanyakan bersifat hiburan semata yang mengandalkan keindahan fisik mereka. Muncul kesan “menjual diri” dalam arti yang lebih luas, yaitu menggunakan aset fisik mereka untuk mendapatkan keuntungan.
Kita mengetahui, ada terminologi strawberry generation yang digunakan untuk mengenali karakteristik generasi muda masa kini. Cirinya adalah menginginkan hasil instan, enggan bekerja keras, dan tidak tahan atau cenderung menghindari tekanan. Karakteristik seperti ini akhirnya memunculkan kecenderungan para perempuan generasi stroberi untuk lebih memilih dunia hiburan digital karena dirasa lebih mudah dari pada pekerjaan kantoran.
Mereka beranggapan lebih mudah untuk sekedar melakukan selfie, atau berjoget di depan kamera. Bagi yang memiliki kecantikan paras, bisa cukup dengan pamer parasnya itu. Bagi yang memiliki kebisaan tertentu, seperti menari, memasak, menyanyi, atau pun berbahasa asing bisa unjuk kebisaannya itu. Ada yang menggabungkan kedua kelebihan tersebut hingga semakin meningkatkan popularitas dirinya. Namun, ada pula sisi gelap dari fenomena ini, yaitu bermunculannya konten pornografi.
Jika dilihat dari konten-konten populer di media sosial saat ini, konten perempuan memamerkan wajahnya dan perempuan cantik berjoget menempati posisi terbanyak berdasarkan sebaran dan produksinya. Konten-konten seperti itu terlihat jauh lebih laku dari pada konten perempuan lainnya. Juga lebih unggul dari pada konten yang isinya laki-laki, kecuali kalau laki-laki itu adalah idola publik.
Ini merupakan lahan basah bagi kaum perempuan. Mereka bisa membuat konten secara individu, merekam sendiri, mengatur tema, latar cerita, dan persona sendiri. Kemudian menyebar luaskannya, berkompetisi dengan kreator konten perempuan lainnya, sampai menuai hasilnya sendiri. Mereka juga bisa bergabung ke dalam sebuah tim kreator dan berperan sebagai wajah di depan layar.
Fenomena ini tentunya bertolak belakang dengan keadaan kaum laki-laki. Mereka tidak serta merta dengan mudahnya mampu berkarir di dunia hiburan digital tersebut. Peluang yang disediakan tidak sebanyak perempuan. Bagi laki-laki, wajah menarik saja belum cukup untuk menghibur masyarakat luas dengan selera patriarki.
Berbeda dengan perempuan, peluang untuk terjun ke dalam dunia hiburan ini sangat besar. Bahkan, lebih besar lagi peluang terbuka di sisi gelapnya media sosial. Ya, sebagai kreator konten porno. Kemunculan beberapa kanal hosting video berbayar telah banyak bertebaran dan mereka selalu memerlukan wajah baru.
Kaum perempuan yang menginginkan uang mudah akan lebih memilih profesi ini. Mereka hanya harus mempertontonkan tubuh di depan layar gawai mereka, mengumpulkan penggemar, kemudian mengumpulkan uang pembayaran dari mereka. Berbeda dengan pelacur konvensional, tubuh mereka tidak akan terjamah oleh pelanggan. Mereka hanya bermodal lenggak-lenggok, gaya bicara erotis, dan aktivitas seksual (self service). Tidak ada kewajiban untuk melayani pelanggan secara fisik.
Tentu hal demikian dipandang sebagian perempuan sebagai tawaran yang menggiurkan. Tidak perlu ada pelatihan berbayar, sekolah yang lama dan berjenjang, dan sertifikasi yang mahal untuk terjun ke dunia ini. Cukup menjadi perempuan sesuai standar yang diinginkan masyarakat patriarki. Terlebih jika melihat persaingan kerja saat ini sangat memerlukan hard skill dan soft skill yang mumpuni, mereka yang memiliki karakteristik generasi stroberi tidak akan memilih jalan yang sulit ini. Karena bagi mereka, cukup hanya menjadi perempuan saja mereka akan mendapat pekerjaan.