Akhir-akhir ini kita sering mendengar atau membaca berbagai tulisan tentang Strawberry Generation. Mereka membahas tentang karakteristik sebuah generasi yang dikenal lebih luas sebagai generasi milenial.
Sebagai latar belakang, Strawberry Generation dimunculkan untuk memberi label pada orang-orang kelahiran 1982–2002 di Taiwan yang memiliki karakteristik mudah mengkerut seperti stroberi atau rapuh ketika menghadapi tekanan, baik fisik maupun psikis. Kemunculan generasi seperti itu disinyalir berasal dari perlakuan orang tua yang terlalu melindungi, memanjakan, dan memfasilitasi anak mereka.
Tindakan mereka tersebut dilandaskan pada rasa kasih sayang yang membuat mereka tidak ingin anak-anak mereka merasakan hal serupa pengalaman pahit mereka di masa lalu. Ketika para orang tua berhasil mendapatkan kemandirian materi, secara tidak sadar mereka akan berusaha sekuat tenaga agar anak mereka jauh dari hal-hal yang tidak enak.
Namun, hal tersebut justru membawa efek negatif kepada generasi yang kemudian disebut dengan generasi stroberi. Ketika dewasa, generasi ini terlihat cenderung mudah menyerah, tidak tahan terhadap tekanan, rapuh baik secara fisik maupun mental. Akhirnya, muncullah orang-orang dewasa yang malas, mager, tidak mau bekerja keras, gampang bosan, menginginkan hasil instan, dan tidak memiliki daya juang yang tinggi.
Tentu jika kita merujuk pada argumen di atas, kita melihat peran penting parenting dalam proses kemunculan generasi stroberi. Hanya orang tua yang telah mapan secara ekonomi lagi memanjakan anak mereka yang mampu menciptakan anak-anak rapuh dan manja. Bagi mereka yang tidak mapan secara ekonomi kemungkinan besar tidak akan menghasilkan generasi stroberi.
Memang sudah seharusnya kita tidak melakukan generalisir terhadap kondisi ini. Tidak semua orang kaya memanjakan anaknya. Ada saja orang kaya yang mendidik anaknya dengan keras, hingga menghasilkan generasi yang tangguh pula. Orang-orang inilah yang kemudian menghasilkan anak-anak kaya pula. Lalu oleh masyarakat kita kenal dengan istilah old money.
Berbeda dengan orang tua kaya yang memanjakan anaknya. Merekalah penyumbang terbesar jumlah generasi stroberi di masyarakat. Anak-anak manja yang mereka hasilkan kemudian berpotensi hanya menghabiskan harta orang tuanya saja. Mengalami kebangkrutan materi dan mental.
Tentu saja parenting di rumah bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan lahirnya generasi stroberi. Ada pengaruh lingkungan tempat tinggal, pertemanan, dan pendidikan yang juga berperan penting. Anak-anak orang kaya itu dalam pergaulannya akan berteman dengan sesama mereka. Ini adalah prinsip lingkungan kelas sosial sederhana. Begitu pula dengan lingkungan pendidikan, orang tua yang kaya akan menyekolahkan anak mereka di sekolah yang mahal, berfasilitas lengkap dan terbaik, nyaman lagi dilayani. Belum lagi les privat dengan menghadirkan guru-guru yang mengajari dan melayani sesuai dengan kehendak sang anak. Pola tumbuh kembang anak seperti ini adalah pencipta generasi stroberi paling lengkap. Istilah yang akan saya kemukakan di sini yaitu pure blood strawberry generation.
Lho, kalau ada darah murni, berarti ada juga darah campurannya, dong?
Dalam konflik pertentangan kelas sosial, kita mengenal istilah social climber atau di Indonesia dikenal dengan istilah Pansos (panjat sosial). Golongan orang-orang seperti ini ada di seluruh belahan dunia, dimana pun anda menerapkan konsep generasi stroberi ini.
Mereka yang tergolong Pansos tidak bisa disebut telah memiliki kemapanan ekonomi. Di sinilah timbul permasalahannya. Orang tua tipe Pansos akan memiliki kecenderungan ingin bertingkah seperti orang kaya namun dengan kondisi yang pas-pasan, bahkan berhutang. Bedanya, mereka mendidik, mengarahkan, dan memanjakan anak mereka layaknya pola orang kaya tetapi dengan dukungan ekonomi terbatas.
Orang tua Pansos akan menyekolahkan anaknya di tempat yang bonafide, menghasilkan anaknya yang berteman dengan anak-anak orang kaya dengan dukungan ekonomi baik. Tetapi sang anak masih tumbuh dalam lingkungan keluarga dan tempat tinggal masyarakat kelas menengah. Secara tidak langsung sang anak akan mengadopsi, secara sadar atau tidak disadari, karakter lingkungan dari dua tipe berbeda, lingkungan kelas atas di sekolah dan lingkungan kelas menengah di sekitar tempat tinggalnya.
Anak-anak half blood akan menghasilkan percampuran yang unik dari hasil sosialisasinya di dua tempat tersebut. Hasil percampuran ini bisa berdampak positif, bisa pula berdampak negatif. Tergantung dari cara dirinya bersikap dan mengambil peran dalam lingkaran pertemanannya.
Dampak positif hadir ketika sang anak mampu menyadari keadaan ekonomi diri dan orang tuanya, tidak terlibat pergaulan penuh gengsi materil, lalu berusaha menaikan kualitas diri dengan mengambil hal-hal positif dari pertemanannya dengan anak-anak orang kaya di lingkungan sekolah atau tempat nongkrong. Berkat pertemanan tersebut sang half blood akan mampu mengadopsi pola berpikir dan gaya kompetisi anak-anak orang kaya, serta mampu masuk ke dalam lingkaran kekerabatan dengan mereka.
Di lain pihak, dampak negatif akan muncul ketika sang anak tidak menyadari keadaan ekonomi keluarganya dan terlibat pergaulan yang tidak sehat secara ekonomi. Ia akan menyibukkan diri memenuhi gengsi pertemanan. Ia melupakan kemampuan ekonomi keluarganya yang pas-pasan. Kesibukan itu juga yang akan membuat dirinya tidak mampu mengambil hal-hal positif dari pertemanannya. Sayangnya, tipe terakhir inilah yang lebih banyak ada di masyarakat.
Begitu pula dengan masyarakat di Indonesia. Perkembangan ekonomi mulai terlihat menanjak pada era reformasi atau setelah krisis moneter ’98. Hal itu ditandai meningkatnya kelas menengah di Indonesia mulai pertengahan dekade 2000-an.
Berbeda dengan di Cina dan di negara lain, nampaknya fenomena generasi stroberi di Indonesia sedikit terlambat. Melihat perkembangan kelas menengah tersebut di atas, bisa jadi generasi kelahiran 1990–2005 yang menjadi generasi stroberi di Indonesia. Tidak menutup kemungkinan ada juga generasi kelahiran 1980-an yang masuk ke dalam definisi generasi ini. Namun, perlu ditambahkan catatan bahwa ia harus berasal dari keluarga yang mapan.
Anak-anak kelahiran 1990 ke atas diasumsikan tumbuh di keluarga yang melewati krisis moneter ’98. Bagi yang berhasil melewatinya dengan baik, maka keluarga itu akan kuat secara ekonomi. Dari merekalah akan tercipta generasi stroberi versi Indonesia.
Karakteristik negatif generasi stroberi tersebut kemudian bertambah parah ketika munculnya teknologi digital zaman sekarang. Kemudahan yang dihadirkan teknologi akan mendukung sifat malas mereka. Mereka akan terlena dengan teknologi. Mulai merasakan ketidakmampuan diri untuk lepas dari teknologi.
Kehadiran teknologi mampu memberikan hasil instan hampir di semua aspek kehidupan. Sebut saja dalam proses pendidikan. Kemudahan teknologi membuat generasi muda sekarang sangat bergantung pada hal itu. Mereka tidak mau menghapal, tidak mau berpikir keras, dan tidak mau menghabiskan waktu untuk mendidik diri sendiri. Hal ini kemudian menghasilkan generasi yang tidak mampu menggunakan aspek kognitif mereka dengan baik, tidak mampu bekerja keras, dan ingin hasil yang cepat. Mereka juga akan mudah merasa bosan dan tidak tahan terhadap tekanan.
Kecanduan teknologi di atas memiliki efek yang sama dan saling mendukung dengan karakter generasi stroberi. Akibatnya, akan muncul generasi terburuk yang pernah ada di sejarah manusia dari segi karakter dan ketahanan mental.
Kita akan menemukan orang-orang yang malas bergerak atau dikenal kaum rebahan tapi punya cita-cita sukses. Bertemu lagi dengan orang-orang yang memiliki angan-angan besar dan bermulut besar tapi tidak mau berusaha untuk mewujudkannya. Ada lagi orang-orang yang bermimpi untuk menjadi orang kaya, namun menginginkan hasil instan, tidak mau berusaha dari nol. Akhirnya menghalalkan segala cara, termasuk menipu, mencuri, bahkan menjual diri.
Dari segi ketahanan mental, kita akan bertemu dengan orang-orang yang baperan, mudah insecure, hingga cemas berlebih. Kita akan menemukan orang di sekitar kita yang merasa dirinya selalu menjadi korban (playing victim), padahal yang terjadi pada dirinya hanya sebuah dinamika sosial pertemanan belaka. Ada juga yang hidupnya selalu mencari perhatian di media sosial dengan unggahan-unggahan yang dibuat-buat, palsu, dan manipulatif. Ada juga orang-orang yang terkesan berani di media sosial tapi pengecut di dunia nyata.
Penampakan seperti itu kita adalah hal lumrah di masyarakat Indonesia. Keputusan terakhir pada dasarnya ada di tangan kita masing-masing. Akankah kita menjadi bagian dari generasi tersebut? Atau mencoba untuk keluar dari karakteristik di atas, mengambil pelajaran dari hal itu, lalu bangkit sebagai sosok yang unggul dibandingkan mayoritas orang di generasi ini?
Perubahan tidak terjadi satu malam. Ia adalah kristalisasi dari proses panjang yang dimulai dari diri sendiri.