“Cita-citamu mau jadi apa, kalau sudah besar?”
“Aku pengin jadi polisi!”
Pernah nggak sih dengar anak-anak Indonesia sekarang bercita-cita pengin jadi petani? Sudah saya duga, pasti nggak ada. Kalau pun ada, pasti hanya segelintir anak-anak dari planet Mars.
Hehehe….
Sedari SD sampai awal SMA, saya meyakinkan diri kalau cita-cita saya adalah menjadi dokter. Tebakanmu betul, saya mungkin nggak akan pernah menjadi dokter.
Wkwk….
Teman-teman saya yang lain ada yang ingin jadi tentara, polisi, bidan, dll. Sekali lagi, nggak ada yang mau jadi petani. Padahal, tanah di daerah tempat saya tinggal bisa dikatakan subur dan sebagian besarnya dijadikan lahan pertanian. Hanya sedikit yang dijadikan perumahan atau pabrik.
Menjadi petani adalah pilihan yang sulit di Indonesia. Apalagi, akhir-akhir ini banyak terdengar muncul konflik agraria. Salah satunya penolakan petani Wadas terhadap penambangan batu andesit dan proyek Bendungan Bener sejak 2016. Gaung kabarnya terdengar dari berbagai media.
Bagaimana tidak? Jadi koruptor tampaknya lebih enak daripada jadi petani di Wadas. Di sana kamu bisa disatroni dan dikejar aparat, sekaligus dapat bogem mentah hanya karena bertahan ingin jadi petani yang tanahnya nggak mau dijual. Syukur-syukur nggak hilang.
Hehehe….
Saya pernah menonton video aksi penolakan warga di Wadas beberapa tahun lalu. Ada beberapa orang laki-laki yang ingin menarik seorang perempuan peserta aksi dan kemudian dilerai oleh salah seorang laki-laki. Dalam beberapa saat, malah si pelerai yang ditangkap. Duh, seram amat ya! Mending korupsi aja deh! Kalau ditangkap dan dipenjara, selnya bisa jadi senyaman sel tahanan Bapak yang korupsi e-KTP.
Wkwk….
Ancaman terhadap para petani ini tak hanya terjadi di Wadas. Di tahun 2021 saja, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat setidaknya terdapat 270 konflik, di mana kenaikan konflik yang paling signifikan ada di sektor pembangunan infrastruktur (73%) dan pertambangan (167%), yang disampaikan oleh Sekjen KPA Dewi Kartika dalam konferensi pers Catatan Akhir Tahun 2021 Konsorsium Pembaruan Agraria, Kamis, 6 Januari 2022.
Sebelum tahun 2021, masih hangat di ingatan saya tentang pembunuhan Salim Kancil yang sadis pada 26 September 2015, karena ia menolak pertambangan pasir di daerah Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang. Bayangkan, bertaruh nyawa untuk jadi petani. Sedangkan untuk jadi koruptor hanya bertaruh caci maki netizen di media sosial. Pilih mana?
Selain konflik agraria, para petani juga dihadapkan dengan harga pupuk yang mahal, seperti yang dikeluhkan oleh seorang petani dari Pekanbaru, Ari Jumadi. Ari mengeluarkan keluh kesahnya tentang harga pupuk yang melonjak dan menyulitkan para petani kecil. Hal itu terekam dalam panggilan videonya bersama Najwa Shihab yang diunggah dalam kanal Youtube Najwa Shihab. Ia mengeluhkan “Pupuk biasanya harga standar Rp300 ribu, sekarang sudah Rp680 ribu, seperti MPK.”
Fenomena kenaikan harga ini memengaruhi pendapatan Ari sebagai petani. “Biasanya kami dapat untung-untung sedikit lah untuk biaya kehidupan sehari-hari dari bertani, kalau sekarang jangankan untung-untung Mbak, malahan buntunglah kami Mbak,” imbuhnya.
Selain masalah pupuk, lahan pertanian juga bisa tercemar oleh limbah pabrik dan pembangunan. Salah satu contohnya adalah limbah proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, yang digarap oleh Konsorsium PT. Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC).
Dilansir oleh Gatra, limbah cair dari kolam penampungan limbah terowongan mencemari 182 hektare lahan pertanian di Kampung Sukaluyu, Puteran, Cikalong Wetan, Kab. Bandung Barat. Air sungai Cileuleuy, yang menjadi sumber pengairan sawah, tercemar dan menjadi berwarna abu-abu dan mengandung semen. Selain itu, para petani pun mengeluh sering gatal-gatal saat turun ke sawah, sejak air sawah mereka tercemar limbah.
Ya, petani memang bukan sebuah profesi idaman di Indonesia. Seorang petani di Bantul malah tak mau anaknya jadi petani. Ia berujar bahwa sekarang susah untuk mencari lahan dan pupuk. Selain itu, setiap hari ia harus bekerja di sawah dengan lumpur dan terik matahari dan ketika panen, harga di pasar malah anjlok. Oleh karena itu, ia lebih memilih anaknya menjadi PNS daripada menjadi petani.
Keluhan seorang petani Bantul itu memang sesuai fakta. Tahun 2021 saja bawang merah impor jauh lebih murah dibandingkan produk lokal. Hal ini disampaikan Adi, seorang pedagang di Pasar Induk Lambaro, Aceh Besar, dalam menjawab Serambinews.com. “Harga cabai merah asal Sumatera Utara di Pasar Induk Lambaro ini dilepas Rp40 ribu/kg dan bawang merah juga Rp40 ribu/kg. Sedangkan harga bawang merah impor dari Cina sangat murah, yakni Rp20 ribu/kg, bawang putih Rp25 ribu/kg,” ucap Adi.
Lihat kan? betapa sulitnya jadi petani.
Kita bisa saja mati. Kalau nggak mati, paling tidak memar di pipi. Mau beli pupuk untuk tanaman, harga pupuk jauh melewati batas kewajaran. Mau jual hasil produksi, produk petani kalah oleh produk hasil importasi. Mau lanjut menanam padi, eh semen malah masuk irigasi. Yakin masih mau menjadi petani?