Labbasa Logo

lab basa

Aliquam metus magna, placerat ut.


Dominasi & Ketundukan: 2 Kualitas Diri Manusia yang Terlupakan

By Dian Azhari March 12, 2022 Posted in Psikologi
Dominasi & Ketundukan: 2 Kualitas Diri Manusia yang Terlupakan

Tanpa disadari setiap diri memiliki dua kualitas ini. Bedanya hanya sebesar apa tingkat pengaruh masing-masing kualitas itu pada pembentukan sifat, karakter, sampai hasrat kita.

Sebelum kita bahas lebih lanjut, harus ada disclaimer terlebih dahulu bahwa yang mempengaruhi proyek diri (identitas, sifat, karakter, hasrat, dll) tidak hanya didasarkan pada dua hal tersebut. Fokus pada dua hal di atas dilakukan agar kita bisa sedikit lebih paham mengapa ada karakter unik pada orang-orang di sekitar kita. Tentu tujuannya adalah agar kita tidak mudah menghakimi mereka karena perbedaan pandangan dan gaya hidup dengan kita, atau dengan masyarakat pada umumnya.

Baik, langsung saja ke pembahasan. Dominan kita artikan sebagai kualitas diri yang ingin menguasai, memengaruhi, dan menonjolkan diri dari pada orang lain. Sementara submisif atau ketundukan diartikan sikap merunduk, mengalah, keadaan taat, dan patuh.

Kebanyakan orang tidak menyadari bahwa keunikan masing-masing individu itu sangat luas cakupannya. Tidak hanya sekedar baik-buruk, introvert-ekstrovert, pesimis-optimis, dominan-submisif, dan lainnya. Namun, kita tidak bisa memandang atau menggolongkan setiap individu berdasarkan kategori tersebut secara hitam-putih. Lebih jauh, kita harus menyadari bahwa masing-masing kualitas yang di dalam diri kita ada sesuai dengan kadarnya. Dan mereka unik.

Misalkan saja, setiap kualitas diri memiliki kadar dari 0–100%. Saat kita mengetahui bahwa dalam diri kita pasti memiliki kualitas dominan — submisif, maka kadar keduanya akan berbeda tiap manusia. Ada yang memiliki kombinasi 20–80, atau 70–30, atau juga 45–55. Bahkan kombinasi nilai tersebut berubah-ubah sesuai dengan faktor penentu lainnya, bisa dari luar, seperti lingkungan, orang lain, suasana, hingga ancaman, dan bisa pula dari dalam diri, seperti faktor traumatis masa lalu, atau gengsi pribadi, dan semacam itu.

Berdasarkan hal itu, kita tidak bisa secara gampang menggolongkan seseorang sebagai dominan atau penurut. Bisa jadi ketika beda situasi dan beda orang yang dihadapi, maka ia akan menunjukan kecenderungan berbeda. Hanya saja, biasanya memang ada pola tersendiri dari masing-masing individu, yang mau tidak mau dirinya akan bersikap seperti itu.

Selanjutnya, yang harus kita pahami adalah bahwa kemunculan kualitas dominan — submisif ini dipengaruhi oleh konflik antar personal. Artinya, ketika seorang manusia bertemu dengan manusia lainnya baru ia akan memunculkan kecenderungannya. Konflik ini dikenal Sartre sebagai konflik saling mengobjekkan1, dan dikenal oleh Nietzsche sebagai kehendak asli manusia yaitu ingin berkuasa2. Kebanyakan dari manusia tidak menyadari bahwa mereka sedang berada dalam sebuah konflik berkepanjangan, bahkan permanen.

Contoh konflik yang kadang luput dari pandangan mata kita adalah hubungan percintaan: suami-istri, muda-mudi pacaran, orang tua-anak, saudara laki-laki-perempuan, dan lainnya. Selama kedua manusia masih saling berhubungan, mereka akan tetap berada di dalam konflik mendominasi atau tunduk patuh.

Ketika seorang manusia memiliki kualitas dominan yang lebih tinggi atau bahkan jauh lebih besar dari pada kualitas submisifnya, maka ia akan selalu ingin berkuasa atas orang lain yang berhubungan dengannya. Menariknya, ketika seorang manusia memiliki kualitas submisif yang besar, ia akan lebih senang berada dalam posisi dikuasai, patuh, dan tunduk. Bahkan yang kerap tak kita sadari, banyak orang yang merasa bahagia ketika dia berada dalam posisi ditundukan dan dikuasai.

Memang konsep dominan dan submisif ini lebih dikenal melalui cabang perilaku seksual, yaitu BDSM (Bondage, Discipline, Sadism, Masochism). Namun, perlu disadari bahwa kecenderungan untuk bersikap dominan atau submisif juga ada di kehidupan sehari-hari. Dalam hubungan sosial sehari-hari, kita sering menemukan seorang teman yang selalu ingin mendominasi pembicaraan, atau pemilihan tempat makan bersama. Juga kebalikannya, ketika ada seorang teman yang lebih suka dipimpin, dipilihkan, ngikut aja, dan jarang mengemukakan pendapatnya.

Begitu pula dalam sebuah hubungan jangka panjang seperti suami-istri, atau hubungan kekeluargaan. Kita sering melihat teman kita, apakah itu perempuan atau laki-laki berada dalam sebuah hubungan yang berat sebelah. Tidak setara. Kita sebagai temannya yang peduli terhadap hidupnya akan mulai berkomentar, menasehati bahwa hubungan mereka sudah tidak sehat. Kadang kita juga berkomentar, “kok mau sih sama dia?” atau “kenapa kamu masih bertahan sama dia?“.

Kita mungkin tidak sadar bahwa ada orang di luar sana yang kecenderungannya senang diperintah, tunduk, patuh, mengalah. Bisa saja teman kita itulah contoh salah satunya. Meskipun ia sedang bersama pasangan yang selalu mendominasi, suka memerintah, sampai mungkin senang main kasar, namun ia tetap “betah” dengan pasangannya. Tidak mau bercerai, bahkan anak terus bertambah tiap tahunnya.

Belum lagi jika kecenderungan submisif orang itu berbanding lurus dengan hasrat seksualnya, yaitu masokisme. Tentu ia akan lebih senang ketika memiliki pasangan yang mendominasi, kasar lagi mengasari dirinya.

Kita sebagai orang luar hubungan mereka ada baiknya tidak mencampuri urusan mereka. Bisa jadi suatu hubungan buruk di mata kita, di mata masyarakat umum, tetapi surga bagi yang menjalaninya. Kita harus mulai menyadari bahwa masing-masing hubungan memiliki kekhasannya sendiri. Tidak semua hubungan harus sesuai dengan wacana normal yang ada di masyarakat.

Jangan sampai kita memaksakan wacana normal masyarakat kepada suatu pasangan, sementara pasangan itu baik-baik saja dengan hubungan mereka. Kita melihat hubungan yang tidak sesuai, lalu memaksa mereka untuk bercerai, padahal mereka merasa hubungannya baik-baik saja.

Sebut saja ada hubungan suami-istri yang pasangannya kasar. Ada pula yang suami tidak bekerja, tapi memaksa perempuannya bekerja mencari nafkah sekaligus mengurus anak dan suami di rumah. Ada pula hubungan orang tua dan anak dimana anaknya menjadikan orang tuanya sebagai babu di rumahnya. Ada pula yang orang tuanya mengatur seluruh hidup anaknya, pilihan bebas dan masa depan anaknya.

Sekilas terlihat ada hubungan yang tidak setara disitu. Biasanya masyarakat akan berempati pada keberlangsungan hubungan tersebut dan mendukung pihak yang kalah. Namun, yang lupa kita perhitungkan adalah sejauh mana “pihak kalah” merasa dirinya kalah, merasa dirinya berada dalam hubungan toxic, dan merasa tertindas oleh pasangannya.

Jangan-jangan, penilaian kita selama ini hanya dilandaskan pada standar kita saja, sesuai wacana yang berlaku di masyarakat. Sementara itu, kita melupakan bahwa ada orang di luar sana yang mungkin memiliki kecenderungan masokisme yang besar. Orang seperti ini akan merasa senang, baik disadari maupun di alam bawah sadarnya. Atau juga ada orang yang telah melakukan beragam tindakan negosiasi terhadap kuasa pasangannya di dalam hubungan tersebut, hingga mengambil keputusan bahwa keberadaannya dalam sebuah hubungan yang tidak setara adalah pilihan terbaik.

Kalau sudah begitu, masih baikkah perilaku kita yang suka mencampuri hubungan tidak setara orang lain? Pada dasarnya, kita sebaiknya menghindari perasaan mencoba menjadi pahlawan. Kecuali jika sudah ada sinyal meminta bantuan dari para korban hubungan tidak setara. Kamu tentu nggak pernah lihat, kan, Batman nyari-nyari penjahat dijalanan karena gabut?

Footnotes

  1. Lihat konsep Jean Paul Sartre tentang Neraka adalah orang lain, dan konsep mengada dalam Being and Nothingness.

  2. Lihat konsep Friedrich Nietzsche tentang der Wille zur Macht.


About the Author

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. In porttitor eros vel faucibus tincidunt. Aenean vel venenatis elit. Nulla et diam auctor, sollicitudin nulla non, porttitor odio. Donec.

View all articles by Dian Azhari