Labbasa Logo

lab basa

Aliquam metus magna, placerat ut.


Komunitas Sebagai Platform untuk Pengembangan Diri

By Lukman Hakim February 2, 2022 Posted in Sosial
Komunitas Sebagai Platform untuk Pengembangan Diri

Bagi kaum muslim mungkin tidak asing dengan petuah „Jika kita bergaul dengan penjual ikan, maka kita akan beraroma amis dan jika kita bergaul dengan penjual parfum, maka kita pun akan beraroma harum seperti parfum“. Apa yang disampaikan dalam petuah itu memang ada benarnya. Dimana kita berdiam diri dan bersosial, ada kemungkinan kita akan terbawa dengan kebiasaan tempat tersebut. Penafsiran dari pepatah tersebut kerap kali dijelaskan dalam dakwah jumatan, maupun pengajian anak-anak sore hari, dimana dijelaskan bahwa ketika kita hendak berteman atau bergaul, pilihlah teman yang baik dan sebaik-baiknya teman adalah yang membawa kebiasan baik atau pengaruh baik.

Penjelasan itu sejalan dengan teori Sociocultural dari Vygotsky, Lev (1934) bahwa pengaruh dari orang tua, pengasuh, teman sebaya dan budaya pada umumnya, yang dapat mengembangkan atau mempengaruhi sifat bahkan cara berpikir dan mengambil keputusan. Secara tidak sadar lingkungan sekitar mempengaruhi seseorang. Contoh sederhana adalah bagaimana keluarga, khususnya orang tua yang memberikan pengaruh sangat banyak terhadap tumbuh kembang karakter dan perilaku. Di sisi lain menurut Nietzsche dalam bukunya Also Sprach Zarathustra (1883) mengenai Übermensch, menyatakan bahwa tujuan dari manusia atau kehendak dari manusia ditentukan oleh diri sendiri, namun hal tersebut tidak semena-mena hadir dengan sendirinya. Ada campur tangan dari pihak lain yang memberikan penglihatan (pengawasan) dan refleksi.

Hal itu dapat kita hubungkan dengan cara bergaul atau beraktivitas manusia di berbagai kegiatan atau komunitas. Menurut KBBI komunitas memiliki arti „kelompok organisme (orang dan sebagainya) yang hidup saling berinteraksi di dalam daerah tertentu; masyarakat; paguyuban“. Dari proses berinteraksi tersebut terjadilah pertukaran pandangan dan cara berpikir. Komunitas menjadi sebuah wadah untuk dapat berinteraksi setelah rumah, dimana komunitas memberikan pengaruh lainnya dari proses interaksi tersebut.

Ada beberapa kategori, yang membuat komunitas dapat terbentuk, salah satunya melalui minat, hal tersebut disampaikan dalam buku The Problem of Sociology David Lee and Howard Newby (1983), yaitu komunitas terbentuk berdasarkan minat yang sama seperti pada kepercayaan agama, gender, pekerjaan dan etnis. Dari kesamaan minat, komunitas dapat terbentuk secara komunikatif dan adanya transaksi pertukaran pengetahuan mengenai minatnya, baik itu cara, alat sampai pemahaman. Seperti contohnya komunitas bahasa asing, bagaimana para peminat bahasa asing saling bertemu untuk membahas bagaimana penggunaan bahasanya, tata bahasa dan bahkan budaya dari penutur aslinya.

Secara teoritis dapat dipahami bahwa lingkungan atau keadaan sekitar dapat mempengaruhi cara berpikir, kemudian komunitas yang menjadi wadah berinteraksi dengan pendekatan minat memberikan referensi dan juga terjadinya proses pertukaran informasi. Hal ini dapat dilihat dari perilaku ketika seseorang mengikuti komunitas atau kegiatan, contohnya pramuka, maka image pramuka yang disiplin dan memiliki cara kerja secara tim yang solid memberikan pengaruh kepada anggotanya. Hal yang dialami oleh anggota pramuka dan bagaimana dia bersosial di lingkungannya akan berpengaruh kepada cara berpikirnya, yang akan menjadi kebiasaan dan akan diterapkan tidak hanya di lingkungan pramuka tetapi di kesehariannya juga.

Melihat manfaat komunitas dalam mempengaruhi perilaku dan cara berpikir seseorang, kemudian muncul sebuah pertanyaan, apakah di era digital saat ini komunitas masih menjadi wadah bagi individu untuk berinteraksi dan mendapatkan pengalaman ataupun pengetahuan untuk dapat membuat individu tersebut berkembang dan menemukan jati dirinya?

Bandung cukup terkenal sebagai kota dengan beragam komunitas. Hal tersebut merupakan salah satu faktor Bandung menjadi jaringan kota kreatif yang diakui oleh UNESCO. Komunitas yang cukup beragam di kota Bandung adalah komunitas Bahasa asing dari Bahasa Inggris, Jepang, Korea, Jerman, Arab, dll. Setiap komunitas bahasa asing memiliki cara uniknya masing-masing untuk mengenalkan bahasanya, dengan pendekatan budaya, seperti melalui musik, film, seni dll. Pendekatan yang tergolong populer tersebut, membuat materi-materi yang sedang dipelajari terasa lebih menarik dan mampun memunculkan semangat belajar. Contoh sederhana terlihat dari banyaknya orang di Kota Bandung yang tertarik terhadap drama korea dan juga idol grup asal Korea Selatan. Hal tersebut memunculkan dampak signifikan mengenai cara mereka berperilaku, berpakaian bahkan sampai cara berpikir atau pola berpikirnya. Fenomena ini didukung pula dengan adanya komunitas atau perkumpulan yang membuatnya menjadi tren di lingkaran komunitas tersebut. Secara tidak langsung komunitas tersebut menjadi media pendukung bagi individu untuk sebuah proses pengembangan dirinya menjadi individu yang beridentitas.

Dengan demikian, jika seseorang berkomunitas dan berinteraksi dengan individu lainnya, maka dia akan mendapatkan pengaruh yang berdampak pada perilaku dan caranya berpikir. Komunitas juga dapat diartikan sebagai wadah dari perkumpulan orang yang memiliki ketertarikan yang sama, beberapa individu berkumpul dan berkegiatan dengan tujuan mengembangkan ketertarikannya ataupun saling berbagi dan mempengaruhi satu dan lainnya. Dalam proses tersebut akan ada pengaruh yang mempengaruhi perilaku ataupun cara berpikir setiap individunya. Pengaruh yang didapat bisa menjadi sebuah hal baru atau bahkan jawaban dari pencarian jati diri seorang individu.


About the Author

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Nam hendrerit nec arcu aliquam interdum. Phasellus eget ante fringilla, feugiat est maximus, congue nunc. Vivamus gravida diam quis libero.

View all articles by Lukman Hakim